ANTARA FOTO/Abriawan Abhe
Inti dari upacara ini adalah allangiri kalompoang, yakni pencucian dan penimbangan Salokoa atau mahkota yang dikreasikan pada sekitar abad ke-14. Mahkota tersebut pertama kali dikenakan Raja Gowa I, Karaeng Tumanurung Bainea.
Mahkota Salokoa terbuat dari emas murni dan bertabur 250 butir berlian dengan berat 1.768 gram. Bentuk mahkota ini mirip kerucut bunga teratai dengan 5 helai kelopak daun.
Penimbangan mahkota ini sangat menarik bagi masyarakat Gowa, sebab konon katanya hasil penimbangan merupakan petunjuk bagi kondisi Gowa di masa mendatang. Menariknya, berat mahkota tersebut selalu berubah setiap tahun. Padahal, pihak kerajaan maupun pemerintah tidak pernah memperbaiki dengan menambah atau mengurangi timbangannya.
Selain mahkota kerajaan, ada empat belas pusaka lain yang dicuci langsung oleh keluarga kerajaan bersama Dewan Adat Bate Salapang, yakni Sudanga atau sebilah senjata sakti sejenis parang, kemudian ada 4 buah Ponto Janga-Jangaya atau gelang berbentuk naga melingkar. Lalu ada 4 buah Kolara atau Rante Kalompoang berbahan emas murni.
Selanjutnya ada Tatarapang atau sejenis keris emas berhiaskan permata, ada pula senjata Lasipo atau parang dari besi tua. Ada pula mata tombak, Berang Manurung atau sejenis parang panjang, lalu perhiasan berbentuk anting bernama Bangkara ta'roe.
Kemudian ada Kancing Gaukang atau Kancing Bulaeng yang terbuat dari emas murni, lalu Cincing Gaukang atau cincin dari emas murni dan perak, kemudian ada Tobo Kaluku atau Rante Manila sejenis emas yang dulu digunakan sebagai perlengkapan pada upacara khusus kerajaan, serta Pannyanggayya atau parang emas.
Selain itu, Dewan Adat juga mencuci Penning emas atau medali emas yang terbuat dari emas murni serta medali emas atau piagam penghargaan yang terbuat dari emas murni. Penghargaan ini merupakan pemberian Kerajaan Belanda sebagai tanda kehormatan kepada Kerajaan Gowa.